Minggu, 22 Februari 2026

Auw Tjoie Lan , Perempuan Penolong

                 

                 Auw Tjoie Lan, Perempuan Penolong

                              by : Hening Bulan 


________________________ 22 / 02 / 2026 __________________


Auw Tjoei Lan lebih dikenal sebagai Mrs. Lie Tjian Tjoen. Ia lahir pada 17 Februari 1889 di Majalengka. Ayahnya, Auw Seng Hoe, adalah seorang pengusaha sekaligus Kapitan Tionghoa, yang memiliki kebun tebu dan pabrik gula.

Kapitan Auw peduli pada kemanusiaan. Ia melakukan sejumlah kegiatan amal; membantu tunawisma, tuna netra, dengan menyediakan makanan dan tempat berlindung.

Auw Tjoei Lan kemudian terlibat dalam pemberantasan perdagangan perempuan setelah menikah dengan Lie Tjian Tjoen, putra Mayor Cina Tjoe Hong, dan pindah ke Batavia. Ia tinggal di sebuah rumah di tengah kota, di Big Gate.

Melalui pastor Van Walsum, ia bertemu dengan Dr. Zigman, seorang mantan guru yang mengajar bahasa dan budaya Belanda. Zigman mengundangnya untuk mengurus Ati Soetji, organisasi pendirian Zigman dan teman-temannya seperti Van Hindeloopen dan Soetan Temanggoeng pada bulan Oktober 1914. Organisasi ini menyelamatkan para wanita yang dipaksa melacur di rumah bordil karena kesulitan ekonomi.

Perdagangan perempuan sudah ada waktu itu. Awalnya para wanita dipekerjakan sebagai pembantu, lalu mereka dijual untuk prostitusi. Pada tahun 1937, Liga Bangsa-Bangsa mengadakan kongres di Bandung, Auw Tjoei Lan hadir. Ia menyarankan agar perempuan diberi pendidikan khusus. Tujuannya adalah untuk memberikan rehabilitasi kepada para perempuan korban perdagangan pelacuran dan mengubah nasib mereka.

Perjuangan Auw Tjoei Lan menarik perhatian banyak orang. Bahkan pemerintah Belanda memberinya bintang Ridder di de van Oranje Nassau.

Auw Tjoei Lan beruntung lahir dan besar dari orang tua yang berpikiran maju. Ia dan saudara-saudaranya mendapat pendidikan Belanda dari seorang guru privat yang didatangkan dari Batavia. Ketika remaja ia melanjutkan pendidikan di Bogor dan tinggal di rumah keluarga seorang pendeta. Selepas dari Bogor, ia kembali ke Majalengka dan menjalankan kegiatan amal ayahnya.

Disiplin dan keteguhan hati juga ia pelajari dari cara ayahnya mengontrol para pekerja yang menjalankan kegiatan amal. Suatu kali Auw Tjoei Lan mendapat tugas memberikan makan kepada para tunanetra. Lantaran teledor dan kurang bersih membuang duri-duri ikan, ia kena hukuman pukulan rotan.

Organisasi Ati Soetji terus berkembang, dan Auw Tjoei Lan mendirikan panti asuhan yang juga dinamai Ati Soetji.  Di kalangan Tionghoa panti ini dikenal dengan nama Po Liang Kok (tempat perlindungan menjaga kebajikan). Ati Soetji sangat memperhatikan kesehatan, asupan gizi, pendidikan, dan kehidupan sosial anak-anak asuhnya. Setiap hari Auw Tjoei Lan datang melihat kondisi anak-anak asuhnya. Begitu seorang anak dititipkan kepadanya, ia memeriksakan anak itu ke rumah sakit. Ketika usia mencukupi, anak asuh dimasukkan ke sekolah dasar. Bagi yang pintar, panti akan membiayai sampai ke sekolah lanjutan.

Masa sulit dihadapi Auw Tjoei Lan ketika pendudukan Jepang. Suaminya dipenjara di Bukit Duri, Serang, dan kemudian Cimahi. Ia juga sempat ditahan beberapa hari. Keuangannya terus menurun.

Usai kemerdekaan, Auw Tjoei Lan berusaha membangun kembali pantinya. Perjuangannya membawa hasil. Kini jejaknya masih terlihat dari panti asuhan dan bangunan sekolah, dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah.

Semangat Auw Tjoei Lan terus menyala hingga batas umur menjemputnya pada Desember 1965. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENA BUKAN SEKEDAR PENA

    PENA KAMI ADALAH SENJATA !! by : Hening Bulan             ______________________________  14 / 04 / 2026 ______________________ Negara I...