Minggu, 22 Maret 2026

PEMBUNGKAMAN BERKEDOK PENINDASAN TERHADAP PERS

                                                    PERAMPASAN KEBEBASAN PERS 

                                                                 

                                                      by : Hening Bulan 


__________________________________  23 / 03 / 2026 __________________________


Di mulai tahun 2024 begitu suram untuk dunia pers, Karena kebebasan pers semakin sempit. 

Seperti kasus yang terjadi baru-baru ini, seorang jurnalis dan aktivis hak asasi manusia bernama Andrie Yunus disiram air keras. Akibat serangan penyiraman air keras itu membuat Andrie Yunus mengalami luka serius di sejumlah bagin tubuh, tangan kanan dan kiri, dada serta bagian mata. 

Warga pun menolong ketika mendengar teriakan Andrie Yunus untuk minta tolong, Andrie Yunus pun dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.Hasil pemeriksaan awal tim medis Andrie mengalami luka bakar 24%. 

Kekerasan terhadap pers sudah pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2024 berdasarkan data kekerasan AJI tercatat 73 kasus kekerasan terhadap pers sepanjang 1 Januari-31 Desember 2024. 

Sesuai data AJI, satu kasus pembunuhan, 19 kasus kekerasan fisik, 17 kasus teror dan intimidasi, 8 kasus pelarangan liputan, 8 kasus ancaman, 6 kasus serangan digital, 3 kasus pemanggilan klarifikasi oleh polisi, 3 kasus kekerasan berbasis gender, 5 kasus perusakan alat / penghapusan data, 1 kasus swasensor di ruang redaksi.Untuk pelaku kekerasan terhadap jurnalis, tertinggi dari pihak polisi sebanyak 19 kasus, dan TNI 11 kasus. 

Pelakunya pun tidak jauh dari TNI, seperti yang di alami Andrie Yunus. Dan kekerasan terhadap Andrie Yunus ini termasuk pelanggaran HAM. Serta kekerasan ini adalah bentuk pemerasan kebebasan pers.

Kita hidup di negara yang dikatakan negara demokrasi, namun, pada kenyataannya apa yang kita rasakan seperti tidak hidup di negara demokrasi. Karena negara demokrasi itu harusnya memberikan kita kebebasan untuk berbicara tentang keadilan, dan kebenaran bukan malah menekan kita. 

Lagi-lagi aturan hukum yang tertulis perlu di tanyakan kembali ?

Hukum dilahirkan di negara untuk melindungi orang-orang yang di tindas, bukan untuk melindungi orang-orang yang pada kenyatannya memang salah. 

Dan perlu di ingat kembali, apapun tindak kekerasan yang terjadi pada jurnalis maupun aktivis adalah bentuk ancaman karena politik. 

Seperti yang dikatakan Soe Hoek Gie, seorang aktivis yang mati muda, bahwa kebenaran hanya di langit dan di bumi ini hanya penuh dengan kebohongan. 





 

Minggu, 22 Februari 2026

Auw Tjoie Lan , Perempuan Penolong

                 

                 Auw Tjoie Lan, Perempuan Penolong

                              by : Hening Bulan 


________________________ 22 / 02 / 2026 __________________


Auw Tjoei Lan lebih dikenal sebagai Mrs. Lie Tjian Tjoen. Ia lahir pada 17 Februari 1889 di Majalengka. Ayahnya, Auw Seng Hoe, adalah seorang pengusaha sekaligus Kapitan Tionghoa, yang memiliki kebun tebu dan pabrik gula.

Kapitan Auw peduli pada kemanusiaan. Ia melakukan sejumlah kegiatan amal; membantu tunawisma, tuna netra, dengan menyediakan makanan dan tempat berlindung.

Auw Tjoei Lan kemudian terlibat dalam pemberantasan perdagangan perempuan setelah menikah dengan Lie Tjian Tjoen, putra Mayor Cina Tjoe Hong, dan pindah ke Batavia. Ia tinggal di sebuah rumah di tengah kota, di Big Gate.

Melalui pastor Van Walsum, ia bertemu dengan Dr. Zigman, seorang mantan guru yang mengajar bahasa dan budaya Belanda. Zigman mengundangnya untuk mengurus Ati Soetji, organisasi pendirian Zigman dan teman-temannya seperti Van Hindeloopen dan Soetan Temanggoeng pada bulan Oktober 1914. Organisasi ini menyelamatkan para wanita yang dipaksa melacur di rumah bordil karena kesulitan ekonomi.

Perdagangan perempuan sudah ada waktu itu. Awalnya para wanita dipekerjakan sebagai pembantu, lalu mereka dijual untuk prostitusi. Pada tahun 1937, Liga Bangsa-Bangsa mengadakan kongres di Bandung, Auw Tjoei Lan hadir. Ia menyarankan agar perempuan diberi pendidikan khusus. Tujuannya adalah untuk memberikan rehabilitasi kepada para perempuan korban perdagangan pelacuran dan mengubah nasib mereka.

Perjuangan Auw Tjoei Lan menarik perhatian banyak orang. Bahkan pemerintah Belanda memberinya bintang Ridder di de van Oranje Nassau.

Auw Tjoei Lan beruntung lahir dan besar dari orang tua yang berpikiran maju. Ia dan saudara-saudaranya mendapat pendidikan Belanda dari seorang guru privat yang didatangkan dari Batavia. Ketika remaja ia melanjutkan pendidikan di Bogor dan tinggal di rumah keluarga seorang pendeta. Selepas dari Bogor, ia kembali ke Majalengka dan menjalankan kegiatan amal ayahnya.

Disiplin dan keteguhan hati juga ia pelajari dari cara ayahnya mengontrol para pekerja yang menjalankan kegiatan amal. Suatu kali Auw Tjoei Lan mendapat tugas memberikan makan kepada para tunanetra. Lantaran teledor dan kurang bersih membuang duri-duri ikan, ia kena hukuman pukulan rotan.

Organisasi Ati Soetji terus berkembang, dan Auw Tjoei Lan mendirikan panti asuhan yang juga dinamai Ati Soetji.  Di kalangan Tionghoa panti ini dikenal dengan nama Po Liang Kok (tempat perlindungan menjaga kebajikan). Ati Soetji sangat memperhatikan kesehatan, asupan gizi, pendidikan, dan kehidupan sosial anak-anak asuhnya. Setiap hari Auw Tjoei Lan datang melihat kondisi anak-anak asuhnya. Begitu seorang anak dititipkan kepadanya, ia memeriksakan anak itu ke rumah sakit. Ketika usia mencukupi, anak asuh dimasukkan ke sekolah dasar. Bagi yang pintar, panti akan membiayai sampai ke sekolah lanjutan.

Masa sulit dihadapi Auw Tjoei Lan ketika pendudukan Jepang. Suaminya dipenjara di Bukit Duri, Serang, dan kemudian Cimahi. Ia juga sempat ditahan beberapa hari. Keuangannya terus menurun.

Usai kemerdekaan, Auw Tjoei Lan berusaha membangun kembali pantinya. Perjuangannya membawa hasil. Kini jejaknya masih terlihat dari panti asuhan dan bangunan sekolah, dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah.

Semangat Auw Tjoei Lan terus menyala hingga batas umur menjemputnya pada Desember 1965. 

PERAN TIONGHOA DALAM PERUMUSAN PANCASILA

                               

              PERAN TIONGHOA DALAM PERUMUSAN PANCASILA

                                                                By : Hening Bulan 


_________________________________ 22 / 02 / 2026 ___________________________


Pada 1 Maret 1945, Siko Syikikan Kumakici Herada (Panglima Tertinggi Dai Nippon di Indonesia) mengumumkan pembentukan Dokuritsu Junbi Cosakai, yang dikenal sebagai Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Pembentukan badan tersebut menjadi angin segar menyongsong kemerdekaan Indonesia.

Badan yang resmi berdiri 29 April 1945 ini bertugas menyelidiki kesiapan Indonesia untuk menjadi negara-bangsa sendiri, lengkap dengan sistem pemerintahannya.

Sebulan kemudian, dijadwalkanlah agenda sidang untuk membahas dasar-dasar apa yang akan digunakan sebagai landasan Indonesia ketika merdeka kelak.

Kemudian dipilah dan dipilihlah anggota BPUPKI yang bisa mewakili semua golongan yang ada di Indonesia. Hal ini menjadi penting karena yang dibahas adalah landasan dasar sebuah negara.

Jumlah keanggotaan badan ini semula 63 orang, kemudian bertambah menjadi 69 orang. Jepang membagi anggota BPUPKI ke dalam lima golongan, yakni golongan pergerakan, golongan Islam, golongan birokrat atau kepala jawatan, wakil kerajaan, pangreh praja (residen/wakil residen, bupati, wali kota), dan golongan peranakan.

Anggota BPUPKI tidak semuanya pria, terdapat dua orang perempuan yang turut serta dalam perumusan awal dasar negara ini. Kedua perempuan itu adalah Ny. Maria Ulfa Santoso dan Ny. R.S.S. Soenarjo Mangoenpoespito.

Mewakili golongan peranakan Tionghoa yang dilibatkan adalah:

Liem Koen Hian

Ia merupakan tokoh wartawan dan pendiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI) yang memiliki visi tentang kewarganegaraan Indonesia. Pria kelahiran 1897 ini sangat antikolonial, namun tetap menjunjung tinggi identitas etnis setiap golongan.

Dalam sidang BPUPKI, Liem menyerukan agar kaum Tionghoa yang lahir di Indonesia menjadi Indonesier (orang Indonesia). Liem menuntut persamaan hak dan kewajiban, yakni untuk membela tanah air.

Oey Tiang Tjoei

Pria kelahiran 1893, ini merupakan pimpinan surat kabar Hong Po. Oey Tiang Tjoei yang kemudian berganti nama menjadi Permana ini juga ketua Hua Ch’iao Chung-hui (HCCH) di Jakarta. HCCH menjadi organisasi gabungan semua organisasi dagang Tionghoa kala itu.

Oey Tjong Hauw

Ia adalah Ketua Partai Chung Hwa (CHH). Partai milik kaum peranakan Tionghoa di Indonesia ini berdiri pada 1928. 

Tan Eng Hoa

Pria kelahiran 1907 ini  saat dipercaya ikut serta sebagai anggota BPUPKI berusia 38 tahun. Tan adalah orang yang mengusulkan hukum untuk menetapkan kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan sebagainya, menjadi pasal tersendiri dalam undang-undang.

Dari usulan itulah kemudian lahir Pasal 28 UUD 1945 tentang kebebasan berserikat. Tan juga merupakan pendukung ide republik sebagai bentuk negara Indonesia.

Terdapat satu nama lagi, yakni Yap Tjwan Bing yang merupakan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Pria kelahiran 1910 ini, bagi masyarakat Solo adalah salah satu tokoh panutan hingga diabadikan menjadi nama jalan di salah satu kampung Jagalan.


KEPEMIMPINAN MELAYANI

 

                                                  Basudewa: Kepemimpinan Melayani

                                                                    by : Hening Bulan 


_________________________________ 22 / 02 /2026 _________________________________


Kekuasaan adalah untuk dapat memberi lebih banyak. Ia mau belajar dan bertumbuh dalam pelbagai aspek. Senantiasa menyelaraskan (recalibrating) dirinya terhadap komitmen untuk melayani rakyat.

“Pemimpin yang efektif adalah seorang yang responsif. Selalu tanggap terhadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan, dan impian dari mereka yang dipimpin. Selain itu, selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi rakyat,” tutur Basuki.

Kepemimpinan efektif dimulai dengan visi yang jelas. Visi ini merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan perubahan sekaligus mendorong terjadinya ledakan kreatifitas yang dasyat melalui integrasi maupun sinergi pelbagai keahlian dari orang-orang yang dipimpinnya.

“Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi jelas rakyat hendak diajak menuju kemana? Dua aspek mengenai visi, yaitu visionary role and implementasi role. Artinya, seorang pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan visi, tetapi memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tersebut dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan agar tercapai visi itu,” tegas Pudji Dewanto.

Betapapun, pemimpin yang efektif adalah seorang pendamping orang-orang yang dipimpinnya (perfomance coach). Ia menginspirasi, mendorong, dan memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan kegiatan, target, monitoring, pengendalian, serta mengevaluasi kerja.

Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki karakter semata, tetapi ia harus memiliki serangkaian metode kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif.

Banyak pemimpin memiliki karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi pemimpin formal, justru tidak efektif karena tidak memiliki metode kepemimpinan yang baik.

Pasangan calon bupati Basudewa (Basuki dan Pudji Dewanto) apa boleh jadi salah satu tolok ukur kecerdasan spiritual kepemimpinan yang melayani (servant leadership)?

Ungkapan pelbagai penilaian dari unsur PNS, profesi, pedagang,  di Bojonegoro yang dihimpun hampir senada mengatakan,“ Basudewa adalah pasangan yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, dan selalu mengupayakan hal terbaik buat orang lain”.

PROBLEM POLITIK KEBUDAYAAN

                                                

                       PROBLEM POLITIK KEBUDAYAAN 

                            by : Hening Bulan 


____________________________ 22 / 02 / 2026 _________________________


Politik kebudayaan masih ‘mencengkramai’ Indonesia. Ia mewarnai pencarian akar ke-Indonesiaan. Ada kecenderungan biner antara anjuran terhadap modernitas di Indonesia melaui belajar dari Barat serta anjuran masa lalu sebagai referensi kultural masa kini.

Gempur-menggempur antarparadigma tampaknya terus menjadi kecenderungan umum dalam menghelat masalah kebudayaan di Indonesia. Di sinilah terasa sekali bahwa membentuk Indonesia dalam konteks saat ini masih perlu dilihat dalam koridor ‘proyek modernitas’ yang belum selesai.

Salah satu persoalan negara-bangsa yang saat ini terus menjadi perdebatan serius adalah kecenderungan antara menjalankan ‘unifikasi’ kultural dan kecenderungan ‘multikultural’. Lepas bahwa unifikasi kultural di Indonesia tidak setelanjang seperti kebijakan “diskriminasi”- demi mengukuhkan eksistensi budaya Melayu- di Malaysia misalnya, kecenderungan Jawanisasi banyak dirasakan sebagai bagian dari praktik pembangunan nasional di masa Orde Baru. Dalam konteks perdebatan membangun visi kebudayaan antara yang pro kebhinnekaan dengan homogenisasi, dua kecenderungan ini terus mewarnai dinamika negara-negara bangsa sampai saat ini.

Gelombang globalisasi tidak saja mendedah kemungkinan orang untuk menerima perbedaan kultural, namun kecenderungan Barat yang monokultural juga inheren dalam proyek globalisasi. Itulah sebabnya, dalam tesis Benjamin Barber (1992), praktik globalisasi yang saat ini memunculkan homogenisasi budaya Barat secara bersamaan akan memunculkan musuh utamanya, yaitu globalisasi.

Gerak pendulum semacam ini tentu saja diakui sangat linear, enggan mengajukan asumsi bahwa ide-ide  baru individualisme liberal ini dengan sendirinya akan berkembang bersamaan dengan proses industrialisasi yang hampir tidak dapat ditolak oleh semua bangsa di dunia.

Di tengah benturan peradapan seperti ini, bagaimana ke-Indonesiaan dapat ditempatkan? Politik kebudayaan seperti apakah yang mesti kita rakit sedari dini untuk pada satu sisi mempertahankan eksistensi negara- bangsa Indonesia, namun pada sisi lain dapat terus mempertahankan kebhinnekaan sebagaimana telah dianggap sebagai ciri budaya di Indonesia?

Strategi kebudayaan sejatinya bertaut dengan politik kebudayaan. Meminjam ungkapan Clifford Geertz dalam bukunya “Politik Kebudayaan” (1994), bahwa suatu politik negara mencerminkan desain kebudayaannya. Dan kita tahu, tujuan kebudayaan nasional Indonesia telah termaktub dalam naskah Pembukaaan Undang-Undang Dasar 1945 dengan Pancasila sebagai dasar filosofinya.

Pemikiran tentang politik kebudayaan terasa merupakan tugas konseptual. Sebagai landasannya adalah gagasan tentang  bagaimana dan sejauhmana kita memahami modalitas kekinian tentang ‘kebudayaan’ di satu pihak dan “nasional” di lain pihak. Kita senantiasa mesti menakar komitmen terhadap watak ideologis dan teleologis kenegaraan dan kebangsaan.

Kebudayaan memang bukan hanya berisi pikiran manusia yang abstrak, konseptual, dan kognitif, melainkan pewarisan preskriptif antargenerasi sekaligus mewujud dalam tindakan yang riil, operasional, dan praktis.

Kebudayaan sebagai pengetahuan akan menjadi proses panjang dalam mengingat, menghimpun, dan mengolah berbagai dimensi epistemik kezamanan suatu bangsa demi pengembangan kualitas kebangsaan. Di sini, kita akan menoleh pada proses pendidikan. Persoalannya adalah, bagaimana kita bisa merumuskan suatu sistem pendidikan nasional yang unggul?

Kebudayaan sebagai pilihan eksitensi merupakan praksis nilai-nilai dimana suatu bangsa menentukan sikap diri kebangsaannya. Di sini akan membutuhkan pengejawantahan sikap loyal, dinamis, heroik, dan visioner yang menjadi prasyaratnya. Sementara, kebudayaan sebagai praktek komunikasi berarti memerlukan warga negara yang kreatif dan dinamis.

Bagaimana mengatur dan menata hubungan antarumat beragama dan berke-Tuhan-an bagi sesama bangsa misalnya, menjadi tema yang selalu aktual? Terlebih saat ini negeri kita tengah ramai dengan konflik keagamaan. Padahal, hegemoni kemayoritasan sedari dini telah diberlakukan sebagai hal yang tidak relevan. Cobalah simak pernyataan Soekarno bahwa demokrasi kita bukanlah “mayorokasi” dan “minorokrasi”.

Akhirnya, patutlah menyebut bahwa suatu bangsa ibarat sebuah rumah. Jika penghuninya dianggap saudara, maka setiap orang dalam rumah itu hendaknya berada dalam kesamaan yang semestinya. Tak seorang pun warganya yang boleh diperlakukan tidak adil atau ditumpas hak hidupnya. Semua sama dalam hal akses dan ekspresinya. Dengan itu, mereka leluasa melampiaskan kemampuannya yang kelak bermanfaat bagi bangsa dan negara Indonesia.

Kamis, 19 Februari 2026

PERAN PEREMPUAN DEMI PERUBAHAN

CIKAL BAKAL PERAN PEREMPUAN DALAM DUNIA POLITIK DEMI PERUBAHAN BAHWA PEREMPUAN BUKANLAH OBJEKTIFIKASI 

                     By : Hening Bulan


_________________________ 19 / 02 / 2026 ________________________


Di tulisan kali ini gue mau bahas tentang 'peran perempuan dalam dunia politik'. Namun, sebelum itu, what is politics ?

Sebelum menjelaskan apa itu politik, arti politik ada berbagai banyak makna dan berbagai pengertian dari para ahli politik. Namun, arti politik secara umum, politik adalah ada hubungannya dengan kendali pembuatan keputusan publik dalam masyarakat dan juga di penuhi oleh aturan-aturan. Bahkan di sokong dengan wewenang secara sah dan memaksa.

Gue menulis ini juga ada hubungannya dengan kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang akhir-akhir ini masih sering terjadi. 

Diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan masih terjadi sampai detik ini. Para perempuan berusaha melindungi diri, meskipun kondisi hukum hingga hari ini masih di pertanyakan. Karena masih sering terjadi hukum justru menyalahkan perempuan yang menjadi korban. Begitu banyak bentuk kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, dari tahun ke tahun kekerasan terhadap perempuan selalu meningkat.

Terlihat dari Catatan tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan ), selama 10 tahun menerima pengaduan kekerasan terhadap perempuan. Di mulai dari tahun 2015 sampai 2024. Dari jumlah pengaduan dari tahun 2015 sampai tahun 2024 di katakan tidak sedikit. Sesuai informasi yang di dapat dari Komnas Perempuan total yang di dapat pada tahun 2024 berjumlah 4.178 kasus, mengalami penurunan 4,48% dari tahun sebelumnya.

Dari sekian banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan, masih banyak perempuan yang berani bergerak di bidang politik. Karena peran perempuan terhadap politik sangat mempengaruhi terciptanya gerakan perempuan untuk melindungi perempuan dari kekerasan.

Namun, memang tidak semudah itu bagi perempuan agar bisa masuk ke dalam dunia politik. Semua itu di pengaruhi oleh kuantitas dan kualitas. Pada tahap kuantitas di pengaruhi oleh informasi dan peluang maupun ada keinginan dalam diri untuk berpartisipasi berpolitik.  Sedangkan dalam tahap kualitas di pengaruhi oleh kemampuan, keterampilan dan pengetahuan.

Dalam dunia politik juga tidak bisa di pungkiri tidak terjadi diskriminasi gender terhadap perempuan, oleh karena itu di butuhkan jaringan untuk membangun struktur politik yang ramah gender dalam bentuk upaya revisi perundang-undangan dan kebijakan politik serta advokasi jaminan hukum terhadap perempuan. Apalagi negara Indonesia sudah terciptakan budaya patriarki, budaya patriarki yang sangat kental sehingga membuat para perempuan sulit untuk bergerak di ruangnya.

Sebagus apapun perempuan memiliki kemampuan dalam berpolitik, tetapi,masih bisa di hancurkan oleh budaya patriarki yang sangat kental. Upaya ini juga sangat membantu mengubah cara pandang perempuan terhadap politik. 



Rabu, 17 Desember 2025

PEREMPUAN DI MATA HUKUM DAN POLITIK

                           

                          BY : HENING BULAN 


______________________________ 10 / 11 / 2025 _____________________


“Perempuan di Mata Hukum dan Politik”

Dalam pasal 28D ayat (1) menegaskan hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum, yang menjadi prinsip dasar kesetaraan di muka hukum atau biasa di sebut equality before the law.

Tapi, apakah pada kenyataannya kalimat itu benar-benar di jalankan ? 

Dan di tulisan kali ini gue mau bahas, bagaimana perempuan di mata hukum dan politik ? 

Masih banyak kasus hukum yang menyangkut tentang pelecehan seksual yang dialami perempuan dan di saat perempuan itu melakukan pembelaan atas dirinya justru malah di salahkan. Padahal secara teori, jika dimata hukum dan politik, perempuan adalah subjek yang setara dengan laki-laki memiliki hak yang sama , tetapi, kenyataannya perempuan juga masih mengalami diskriminasi dan harus menghadapi stereotip patriarki yang menghambat dalam akses keadilan.

Karena pada kenyataannya, negara ini masih melekat pada budaya patriarki, dimana membatasi perempuan dalam ranah publik, adanya juga ketimpangan sosial,seperti kurangnya kesempatan dan kerentanan lebih tinggi terhadap kekerasan di semua aspek (pendidikan, ekonomi, politik dan sosial ), dan juga kekerasan politik, kekerasan politik sendiri lebih berbasis ke arah gender, dimana perempuan di intimidasi atau membatasi perempuan berpartisipasi dalam kehidupan politik serta publik.

Meskipun sekarang sudah mengalami perubahan, perubahan yang gue maksud adalah ada banyak perempuan hebat menjadi seorang pemimpin maupun memiliki ruang untuk menyampaikan pendapatnya.

Perempuan-perempuan itulah yang semakin memberikan motivasi pada perempuan- perempuan yang hingga saat ini masih belum percaya diri membuka suara kepada publik.

Bahkan di Indonesia dari tahun ke tahun kekerasan terhadap perempuan masih saja meningkat, terlihat dari Catatan tahunan Komisili Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Catatan Tahun 2020 mencatat 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan yang di laporkan dan ditangani sepanjang tahun 2019 yang besarannya naik 6% dari tahun sebelumnya (406.178 kasus).  Hingga di tahun 2024, tercatat 330.097 kasus- naik 14,17% dari tahun sebelumnya dengan dominasi kasus di ranah personal.

Dari banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan inilah yang membuat kita semakin bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya kaum perempuan di mata hukum dan politik ?

Tapi, meskipun dari banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan yang semakin meningkat, ada begitu banyak perempuan yang membantu dan berjuang untuk haknya.

 

( di verifikasi dari berbagai sumber )

 

 

 

 

  


Senin, 01 Desember 2025

CERITA TENTANG KITA

  

                                                                     KITA 

                                                             

                                                           BY   :  HENING BULAN 


__________________________________________   01 / 12 / 2025 _________________________________________


Hi, aku Senja, Ini cerita tentang aku dan dia yang bernama Adam, aku tulis untuknya yang telah lama meninggalkanku.

Sudah terhitung 10 tahun Adam pergi meninggalkanku. Masih teringat jelas memori Adam datang ke rumah ku dengan senyuman hangat dan tatapan sangat dalam padaku. Dia datang dengan tas carrier di punggung tegap nan lebarnya, Adam meminta izin padaku untuk mendaki gunung bersama teman-teman nya.

Tanpa aku tahu di hari itu, hari terakhir aku bertemu dengan Adam.

“Aku pamit naik gunung yaa..”

Aku sedikit mendongak menatap teduh kedua mata Adam yang juga menatap ku begitu dalam dan dia tersenyum lembut padaku. Hari dia datang ke rumah ku waktu itu, aku ingin melarangnya pergi.

Meskipun aku tak melakukannya.

Justru aku bilang,”hati-hati yaa..”

“Iya, aku bakalan hati-hati kok..”

Sebelum Adam pergi, Adam memelukku lalu mengecup keningku dengan bibir lembutnya. Aku pun merasakan kehangatan serta ketulusan cinta Adam. Aku pun tak  kalah erat membalas pelukannya, takut dia tak kembali seperti di hari-hari sebelumnya ketika dia mendaki gunung.

Perlahan kami saling melepaskan pelukan hangat itu, Adam mengacak pelan surai hitam ku sembari tersenyum dan tatapan mu yang sangat lembut.

“Aku pergi yaa, udah di tunggu temen-temen..”

“Kalau udah sampai, kabarin yaa..”

“Iya sayang..”

Perlahan Adam melangkah pergi, punggung tegap dan lebarnya yang membawa tas carrier sudah tak terlihat lagi dari pandanganku. Dalam benak ku, aku ingin memeluknya sekali lagi seakan waktu itu aku sudah merasakan ketakutan terbesar ku, kehilangan Adam untuk selamanya.

***

Tapi, nyatanya Adam memang berbohong.

Dia pergi meninggalkan ku, Adam pulang hanya dengan raga dan nama. Jiwanya telah pergi kepada sang Pencipta. Masih teringat jelas di dalam memori ku, kondisi raganya di bawa pulang waktu itu.

Aku tak berhenti menangisinya.

Dua minggu kepergian Adam, di malam hari itu, aku duduk termenung di teras rumah dan kembali memikirkannya. Aku melihat langit malam di hiasi dengan bulan serta cahaya bintang.

Berharap dari semua cahaya bintang di langit malam adalah Adam yang sedang menatapku duduk termenung.

Gila, ya pikiran ku sudah gila.

Setelah Adam pergi aku selalu berkata seandainya dan seandainya, seandaianya aku bisa memutar ulang waktu, aku pasti menahan mu agar kamu tidak pergi mendaki gunung.

Dan hingga hari ini aku masih sering menangisinya.

***

 

MENJADI DEWASA ITU....

   

                                          QUARTER  LIFE CRISIS 


                                                               BY : HENING BULAN 


 -------------------------------------------- 01 / 12 / 2025 -------------------------------------------


Ngga terasa tahun 2025 akan berakhir, dan bulan ini udah memasuki bulan Desember. Musim hujan juga masih belum berhenti. Setelah gue ingat-ingat udah banyak hal yang gue lakukan hingga tahun ini, dan itu adalah menjadi suatu kemajuan dalam hidup gue.

Dan yang mau gue bahas kali ini tentang 'Quarter - Life - Crisis'.

Gue yakin semua orang akan berada di fase ini, seperti yang gue alami akhir-akhir ini. 

Quarter - Life - Crisis, perasaan cemas, bingung dan tertekan yang dialami oleh orang dewasa di usia 20-an awal hingga usia 30-an. Dan itu semua sering kali di sebabkan oleh segala tuntutan karier, transisi ke dunia kerja dan ketidakpastian atas jalan yang mau kita pilih. 

Okay, dikarenakan usia gue udah 28 tahun, udah pasti pikiran gue kemana-mana, mau gue bawa kemana hidup gue meskipun gue udah punya segala planning. Tapi, nggak semudah itu untuk di jalani. Dan di umur gue yang udah ke 28 tahun ini gue merasa sangat tertinggal oleh temen-temen gue yang udah punya pekerjaan stabil, bahkan udah ada yang menikah juga dan bahkan udah sampai punya keluarga kecil.

Ngga jarang juga gue menyalahkan diri sendiri atas kegagalan gue saat ini, tapi, gue berada di titik, dimana gue berusaha untuk menerima keadaan, namun, tetap gue berusaha semampu gue, berusaha sebisa gue agar gue bisa mencapai apa yang gue mau. 

Ini memang agak sensitif buat kalian semua, gue menyadari satu hal dalam kehidupan ini, karena pada kenyataannya kita ngga bisa hidup tanpa iman. Dalam masa quarter life crisis juga harus di imbangi dengan iman yang baik maka lo bisa menemukan jalan keluar. 

Di usia gue yang ke 28 tahun ini, gue menjalani hobi dan kesenangan baru agar hidup gue tetap berwarna, di samping itu gue tetap fokus apa yang gue mau, di sisi lain, meskipun gue terlahir di keluarga yang sederhana, tapi, mereka selalu memberikan gue pengertian dan dukungan penuh buat gue. 

Menjadi dewasa itu sangat sulit, But, there are many things we can do, dan terkadang itu pun atas keputusan kita sendiri tanpa harus campur tangan orang tua. Menjadi dewasa tidak hanya tentang usia, making money, tapi, buat gue menjadi dewasa itu kita juga harus belajar ikhlas dalam menghadapi segala permasalahan di hidup kita dan mencari solusi. 

Dulu waktu masih kecil kita selalu di tuntun sama tangan orang tua kita tanpa harus memikirkan apa itu quarter - life - crisis, namun, setelah kita dewasa kita harus berjalan pada kaki kita sendiri tanpa harus di tuntun oleh orang tua kita. 

Gue masih inget banget, waktu gue masih kecil, gue selalu bertanya pada bokap, nyokap, maupaun kakak-kakak gue, 'gimana rasanya menjadi orang dewasa', tapi, bukan jawaban yang gue denger dari mulut mereka, mereka justru menjawab 'nanti adek bakalan merasakan sendiri'.

Dan ternyata bener ya, gue merasakan itu sekarang, memang sulit di jelaskan dengan kata-kata, karena menjadi dewasa itu sangat berat, tetapi, di sisi lain kita berusaha melupakan sejenak bagaimana rasa beratnya itu dengan tawa dari hal-hal kecil yang kita lakukan bersama orang di sekeliling kita.

Well, gue percaya, gue akan berada di titik, dimana gue berhasil mencapai apa yang gue mau. Apalagi kalau kita ngejalanin ini semua dengan  ikhlas.


Mungkin cukup dulu tulisan gue kali ini, daahh !!!


Jumat, 18 Juli 2025

Ki Hadjar Dewantara Tegas Siap Mati

 

________________ 19 / 07 / 2025 ____________________________ 

 

  Content Writer : Hening Bulan 


Keteladanan Ki Hadjar Dewantara bukan saja tercermin dari pemikirannya. Ia juga bernyali seorang pendekar.

Dalam peristiwa rapat umum di Lapangan Ikada (saat ini Monas), 19 September 1945, presiden dan jajaran kabinetnya harus menembus kepungan senjata serdadu Jepang di sekeliling lapangan.

Pada awalnya, rapat direncanakan untuk berlangsung pada tanggal 17 September 1945, tepat sebulan setelah kemerdekaan. Adanya ancaman dari tentara Jepang dan Sekutu membuat rapat diundur dua hari kemudian.

Tujuan diadakannya rapat dalam peristiwa Lapangan Ikada adalah mendekatkan pemerintah RI dengan rakyat secara emosional mengenai kemerdekaan Indonesia.

Aksi pengerahan massa ini juga dimaksudkan sebagai unjuk kekuatan terhadap pemerintahan militer Jepang yang bersikeras mempertahankan status quo sampai Sekutu datang ke Indonesia.

Setelah semua sepakat hadir, tantangan lainnya adalah menentukan Menteri yang membuka jalan ke Lapangan Ikada.

Akhirnya, Ki Hadjar Dewantara yang ketika itu menjadi Menteri Pengajaran mengajukan diri sebagai pembuka jalan. Ayah enam anak ini menerobos penjagaan tantara Jepang bersama Menteri Luar Negeri Achmad Soebardjo dan Menteri Sosial Iwa Koesoema Soemantri.

Ketika diingatkan oleh Sesneg Abdoel Gaffar Pringgodigdo tentang usianya yang tidak lagi muda, Ki Hadjar menjawab enteng,”Justru karena itulah, mati pun tidak mengapa.”

 

(Diverifikasi dari berbagai sumber)

 

Rabu, 24 Agustus 2022

Pembuat Lambang Garuda Pancasila

Sultan Hamid II. Di nadinya mengalir darah ningrat Kesultanan Pontianak. Dia satu dari sedikit orang pribumi yang bisa lulus Akademi Militer Belanda di Breda, Belanda. Sultan Syarif Hamid Alkadri dilahirkan 12 Juli 1913. Putra Sultan Syarif Muhammad Alkadri, Sultan ke enam Pontianak.

Walau terlahir dari Kesultanan Islam, kehidupan Hamid Alkadri Keeropa-eropaan. Dia sempat masuk Technische Hooge School (THS). Tetapi akhirnya lebih memilih menjadi perwira tentara Belanda yang disebut Koninklijk Nederlandsch-Indish Leger (KNIL). Hamid muda memutuskan masuk ke Koninklijke Militaire Academie di Breda. Dia mengaku sangat tertarik dengan kehidupan militer.

Setelah lulus, Hamid menjadi Letnan II. Hamid juga menikah dengan wanita Belanda bernama Marie van Delden. Wanita yang dikenal dengan nama Dina van Delden ini putri seorang kapten tentara Belanda. Masuknya Jepang menghancurkan kekuatan Belanda di Nusantara. Hamid yang sempat berperang di Balikpapan ini kemudian dijebloskan Jepang ke penjara di Batavia. Dia ditahan dari tahun 1942-1945. Baru bebas setelah Jepang dikalahkan sekutu.

Setelah Belanda ingin berkuasa kembali ke Indonesia tahun 1946, Hamid kembali menjadi tentara Belanda. Pangkatnya dinaikkan menjadi kolonel, kemudian jenderal mayor. Mungkin dia pribumi dengan pangkat militer tertinggi. Tapi akhirnya dia melepaskan diri dari dinas militer dan memimpin rakyat Pontianak.

Diakui Hamid, sebuah keputusan yang berat meninggalkan dunia ketentaraaan. Apalagi dia diangkat menjadi ajudan istimewa Ratu Belanda Wilhelmena. Kemudian Sultan Hamid menjadi Ketua Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO). Forum negara-negara federal di Indonesia. Banyak pihak yang menganggap BFO adalah boneka Belanda, walau pendapat ini tak selamanya benar.

Saat Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk, Hamid diangkat Soekarno untuk menjadi menteri negara. Tugasnya menyediakan gedung dan menciptakan lambang negara. Hamid menyerahkan rancangannya. Wujud seorang manusia yang berkepala Garuda dan menggenggam perisai Pancasila. Itulah disain awal Pancasila. Soekarno kemudian memberikan beberapa usul, manusia Garuda diubah sepenuhnya menjadi burung garuda. Tapi saat itu burung garuda masih ‘gundul’ dan tidak berjambul. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk kali pertamanya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut. Beberapa yang diperbaiki antara lain penambahan jambul pada kepala Garuda Pancasila. Selain itu mengubah posisi cakar kaki yang mencengkeram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita. Banyak yang menduga, Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle, Lambang Amerika Serikat.

Karier politik Hamid sendiri berakhir tak lama berselang. Dia bersekutu dengan Westerling untuk menyerang sidang kabinet di Pejambon tahun 1950. Hamid memerintahkan Westerling membunuh menteri pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB Simatupang dan Sekjen Kementerian Pertahanan Ali Budiarjo.

Percobaan pembunuhan itu gagal. Saat komplotan Westerling menyerang, rapat sudah selesai. Sultan Hamengkubuwono IX lalu menangkap Sultan Hamid II. Dia diadili tahun 1953. Pembelaan dirinya ditolak. Pengadilan mengganjarnya dengan hukuman 10 tahun penjara atas kesalahan menggerakkan pemberontakan.

Nama Hamid pun dikenal sebagai pemberontak. Begitu yang tertulis di buku-buku sejarah. Jasanya menciptakan burung Garuda seolah digugurkan. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.

(Content Writter: Hening Bulan)

PEMBUNGKAMAN BERKEDOK PENINDASAN TERHADAP PERS

                                                    PERAMPASAN KEBEBASAN PERS                                                               ...